Bila Anak Cucu Ki Ageng Kutu Menyambut Bulan Suro

Hari sudah mulai gelap ketika kami, Tim Redaksi Ngaji Budaya menyusuri kampung Sodong di pedalaman perbukitan terjal kawasan barat Kabupaten Ponorogo. Hawa dingin mulai merasuki tubuh. Susana hening kami rasakan semakin menyelimuti kampung Sodong, mengantarkan warga menutup bulan Besar, dan menyambut datangnya bulan keramat; bulan Suro!

Ya, malam 1 Suro memang malam keramat, paling tidak bagi masyarakat Sodong (yang dalam sejarahnya dikenal sebagai pengikut setia Ki Ageng Kutu, seteru Batara Katong). Warga kampung ini meyakini malam 1 Suro merupakan malam istimewa. Bahkan banyak pula yang menganggap bulan Suro sebagai bulan suci. Mereka juga meyakini bahwa pada tanggal 1 Suro itulah Ponorogo didirikan.

Tak heran jika mereka menyambut malam 1 Suro secara khusus. Mereka melakukan puasa mutih selama tiga hari tiga malam. Puncaknya, pada malam 1 Suro, mereka berkumpul di satu tempat untuk tirakatan semalam suntuk. Mereka menggelar kenduri, ruwatan, menonton wayang kulit, kidungan dan sejenisnya. Pendek kata, mereka berpesta, bersukaria, namun tak kehilangan kekhidmatan. “Setiap bulan suro kami biasa mengadakan kawilujengan (kenduri),” kata Mbah Midi, sesepuh Sodong.

Kegiatan malam itu dimulai sekitar pukul 7, saat masyarakat sudah berkumpul di Vihara. Warga yang beragama Budha langsung memasuki Vihara untuk melakukan persembahyangan. Sementara warga yang lain setia menunggu di luar Vihara. Selang beberapa saat, ritual di Vihara usai, dan diakhiri dengan kenduri yang diikuti semua warga.

Di tengah pertemuan, Mbah Saimin menyampaikan ceramah dalam bahasa Jawa yang kental. Isinya kurang lebih berbunyi; Saudara semua berkumpul malam ini bertujuan sama, mengerahkan tenaga, pikiran dan budi pekerti untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan di muka bumi. Sama-sama melestarikan peninggalan nenek moyang, dan semoga terus dilanjutkan sampai malam Suro di tahun-tahun yang akan datang.

Sesudah menyampaikan pitutur (nasehat), Mbah Min lalu memimpin prosesi do’a bersama. Meski mayoritas pengikut acara itu adalah orang Islam dan Budha, namun mereka ini justru sangat antusias dan khusuk menjalankan doa yang dipimpin Mbah Min. Kalimat-kalimat do’a pun meluncur dari bibir Mbah Min:

 

Hong wilaheng awigeno

hastu nama asidam

Luputo sare, luputo sandi

luputo dina-ne, tawang-towang

Yang Jagat Dewa Batara

Yang jagat pramudito buwono langgeng

Suci Yang Maha Suci sakpadane

Yang Murbeng Jagat

Tetepung ing paningal

Tinemu nyang roso

Sukmo langgeng kang kinasih kang Murbeng Jagat

Luku-lukune sekar kencono

Lubmunture sih paduko paringo berkah

pepadaring karahayon dateng titah sami

sing mlempak wonten dukuh Sodong

sedoyo sageto wilujeng

catarowadamang wa hanti

hanti hayu hana sukang bawang

 

Doa ini diakhiri dengan bacaan Shanti…Shanti…Shanti…

Setelah itu Mbah Saimin mempersilahkan para pemuda untuk mengatur hidangan. Beberapa saat kemudian hadirin sibuk bersantap makanan. Sesekali perbincangan akrab terdengar diantara warga. Setengah jam kemudian, acara santap malam pun usai. Tetapi warga tidak langsung bubar. Mereka bersiap untuk menjalani ritual berikutnya, yaitu berjalan kaki semalam suntuk.

Mereka memang tidak berbaris dalam satu rombongan, melainkan menyebar. Ada yang pergi ke hutan dan kemudian ‘bertapa’, ada juga yang berjalan menyusuri hutan. Khusus untuk menyusuri hutan, biasanya berlangsung sampai hari berikutnya. Untuk itu mereka sudah membawa persediaan makanan yang cukup. Selain itu ada juga yang memilih bermeditasi di pedanyangan Selo Bale. Ada juga yang hanya duduk-duduk di perempatan jalan. Semua aktivitas itu bertujuan untuk melakukan refleksi, menyatukan diri dengan alam semesta.

Saat tirakatan inilah biasanya para tetua desa membaca kidung-kidung macapat, seperti Sinom, Pangkur, Dandang-gulo, Weda Santi, dan Badra Sakti. Dalam mengidung Mbah Saimin tidak sendirian, melainkan bergantian dengan tiga orang lainnya. Sesekali terdengar gelak tawa menimpali kidung. Hal ini biasa terjadi, karena memang kidungan bukan melulu berfungsi sebagai ritual, namun juga sebagai hiburan.

Kidungan termasuk tradisi tua. Menurut Mbah Saimin, tradisi ini sudah ada sebelum Islam masuk Ponorogo. Berarti juga jauh sebelum Batoro Katong (Sunan Katong) berkuasa. Namun menurut Karmani dan Midi, tradisi kidungan ini sekarang sudah mengalami banyak kemunduran. Hanya tinggal beberapa kelompok saja yang masih menjalaninya. Mayoritas masyarakat Jawa telah meninggalkannya. “Bila dulu orang-orang berjalan menyeberangi hutan dan kembali ke rumah keesokan harinya, kini orang-orang Sodong kebanyakan pergi ke kota melihat Grebeg Suro”, ungkap Mbah Saimin.

Sejak tahun 1992 Bupati Markum Singodimejo memang telah merubah Grebeg Suro sedemikian rupa menjadi gebyar yang penuh kemewahan. Alun-alun selalu menjadi pusat berbagai tontonan. Suro, yang sebelumnya penuh dengan ritual dan ruang refleksi berubah menjadi serba tontonan dan serba hiburan. Meski demikian, masyarakat Sodong tetap setia berkumpul di rumah Mbah Saimin untuk tirakatan dan mendengarkan kidungan sosok sepuh ini. (mur/ring/mif)

Tulisan ini diambil dari majalah Ngaji Budaya yang diterbitkan atas kerjasama Puspek Averroes dengan yayasan Desantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *