KADARUSLAN: SENIMAN SURABAYA HARUS BANGKIT

Nama Cak Kadar (74 tahun), tentu bukan nama asing bagi kalangan seniman dan budayawan Surabaya. Ia merupakan salah satu saksi sekaligus pelaku kesenian di Surabaya. Di usianya yang senja, kakek tiga belas cucu ini masih fasih menceritakan kisah pergulatan seniman dan budayawan di Surabaya, sejak rejim kolonial Belanda hingga masa reformasi sekarang ini.

Belakangan ini sikap patriotnya sering muncul, terutama ketika mendengar adanya Raperda Cagar Budaya. Cak Kadar mengkhawatirkan orientasi pembangunan Surabaya yang hanya terfokus pada uang. Ia mencemaskan tergusurnya konsep sosial yang telah diganti dengan supermarket atau pusat-pusat bisnis, yang hanya memupuk budaya konsumeris. “Target penguasa hanyalah cari uang,” keluhnya.

Cak Kadar boleh dikata bukan hanya seniman-budayawan, tetapi juga pejuang. Laki-laki yang lahir di Kampung Maospati Surabaya tahun 1931 ini, sejak muda sudah berkiprah memanggul senjata. Cak Kadar muda pernah bersama-sama pejuang lainnya yang seangkatan seperti Roeslan Abdul Ghani, Doel Arnowo, Bung Tomo, dan Dr Soewardi untuk mempertahankan Surabaya dari tentara sekutu dalam perang hebat 10 Nopember yang dikenang sebagai Hari Pahlawan itu.

Aktivitas di dunia organisasi dijalani Kadaruslan setamat Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 Surabaya. Saat itu Kadaruslan bergabung dengan Pemuda Sosialis. Kariernya di organisasi ini terus berkembang, tiga tahun berikutnya (1957) ia terpilih sebagai Ketua Pemuda Sosialis Provinsi Jawa Timur. “Saya mengagumi pemikiran Sjahrir tentang sosialisme Indonesia yang bertumpu pada kemanusiaan. Atas dasar itulah saya bergabung bersama Pemuda Sosialis”, ungkapnya.

Lewat panji-panji sosialis itu pula, Cak Kadar ikut meramaikan pelaksanaan pemilu pertama di Indonesia (1955) yang dianggapnya pemilu paling demokratis dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Memasuki tahun 60-an, Cak Kadar bergabung di Yayasan Pusura (Putera Surabaya), yang merupakan warisan para pejuang Indonesia. Sejak awal lembaga ini mengabdikan diri pada kegiatan sosial. Menjelang akhir tahun 60-an, Kadaruslan juga aktif menjadi demonstran menentang Pemerintahan Soekarno. Saat itu Cak Kadar bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Ketika akhir tahun 60-an Golkar terbentuk, Cak Kadar ikut bergabung di dalamnya. Awalnya ia sangat percaya dengan Golkar sebagai kekuatan pembaharu politik. Pada tahun 1970 ia menjadi wartawan Berita Yudha yang bertugas di Jawa Timur. Namun belakangan ia melihat kemerosotan dalam tubuh Golkar, yang ternyata tak ada bedanya dengan orde lama yang bobrok.

Pada tahun 1977, oleh pimpinan Berita Yudha ia dipindahkan ke Bali. Rupanya pemindahan ke Bali ini juga merupakan upaya penyingkiran terhadap keberadaan Kadaruslan di lingkungan Berita Yudha. Akhirnya pada tahun 1979 ia diminta keluar dari Berita Yudha dengan diberikan kompensasi modal usaha.

Keputusan ini ia terima. Berbekal modal uang pesangon itulah ia membuka usaha sebagai peternak ayam di Kalimantan. Hidup sebagai pertenak ayam ia jalaninya selama 12 tahun. Namun usaha itu mengalami kemandekan, pada tahun 1992 ia memutuskan kembali lagi ke Surabaya.

Pada awal tahun 90-an inilah Cak Kadar menggeluti kehidupannya sebagai seniman dan budayawan. Pada tahun 1992 Cak Kadar mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA) dan mendirikan kelompok teater keliling bersama dengan Daryono, Amang Rahman, dan Subali. Setahun berikutnya, ia bersama seniman Surabaya lainnya membuat Pekan Seni Surabaya dengan mengambil momen peringatan HUT Kotamadya Surabaya ke 700. Ide ini terus berlanjut hingga kini berganti nama dengan Festival Seni Surabaya. Pada tahun 1994 Cak Kadar membikin Pekan Seni Pemuda bersama-sama dengan Bimbo, Taufik Ismail dan WS Rendra. Tahun berikutnya ia membikin Parade WR Supratman.

Semua usaha yang dilakukan oleh Cak Kadar ini sedikit banyak telah memberikan semangat dan tambahan energi bagi seniman dan budayawan di Surabaya untuk bangkit. Dan memang, di tengah kegelisannya Cak Kadar hingga kini masih intens memotivasi kalangan muda untuk menggairahkan kesenian di kota pahlawanan ini. Ia ingin masa depan Surabaya tetap menghargai kebudayaan sebagai nafas penting bagi laju perkembangan kota. Untuk itu ia berharap, seniman Surabaya segera bangkit! (ring/mif)

Tulisan ini diambil dari majalah Ngaji Budaya yang diterbitkan atas kerjasama Puspek Averroes dengan yayasan Desantara.

Sumber gambar: alchetron.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *