MBAH SAIMIN; Penjaga Ruang Batin Komunitas Sodong

Mbah Saimin, mungkin bukan figur populer di Ponorogo. Tetapi di Sodong dia adalah sesepuh yang sangat dihormati. Laki-laki kelahiran 1937, di daerah perbatasan antara Kabupaten Ponorogo dengan Wonogiri, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sesepuh sekaligus teladan bagi masyarakat Sodong. Karena kharismanya, masyarakat Sodong seringkali menambatkan pertolongan kepadanya. Mulai dari persoalan berat hingga sepele. Dari urusan keluarga hingga mengobati orang gila. “Saya juga sering dipanggil untuk menenangkan bayi yang menangis tiada henti,” ungkapnya.

Saimin yang merupakan anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan Proyokarso dan Sani, sejak kecil sangat gandrung akan ilmu. Ia sempat mengenyam pendidikan formal tingkat dasar, pada zaman Jepang. Namun kesempatan itu tidak lama, karena kemudian muncul huru-hara dan Perang Asia Raya. Bagi kaum pribumi miskin seperti Mbah Min menikmati sekolah adalah sesuatu yang terlalu mewah. “Sekolah waktu itu hanya untuk para bendoro dan pejabat”, ungkap Mbah Min.

Oleh karena itu Saimin kecil hanya bisa menjalani hidupnya dengan menggembala kambing. Ia dan keluarganya pun hidup dalam rumah yang beratapkan alang-alang. Situasi itu tidak banyak berubah sampai kini. Namun kemiskinan tak membuatnya patah semangat. Sebaliknya membuat Saimin semakin bersemangat menjawab tantangan kehidupan.

Pada akhir 1940-an, Saimin memutuskan untuk menuntut ilmu (kawruh) kejawen di Desa Cangkring, Kecamatan Jatoroto Wonogiri, di bawah asuhan Mbah Sowikarso. Di sanalah Saimin remaja mengenal dunia Kejawen dan segala ajaran moralnya. Bersama guru Sowikarso, Saimin belajar ilmu pitutur kaweruh wujud, ilmu kejawen atau tepatnya filsafat Jawa yang berusaha menyingkap rahasia alam semesta.

“Dari pitutur kaweruh wujud saya belajar banyak tentang kehidupan,” aku Mbah Min.

Saimin terus belajar kepada Mbah Sowikarso sampai tahun 1955. Setelah itu ia pulang kampung. Sejak itu ia dikenal para tetangganya sebagai berjonggo atau yang ‘dituakan’. Seringkali ia dimintai bantuan masyarakat terutama menyangkut persoalan keagamaan, semisal memberi doa dalam hajatan-hajatan penting.

Pada tahun 1965, Saimin menikah dengan Parti. Dari pernikahannya dengan Parti, ia dikaruniai dua orang anak. Namun beberapa tahun kemudian istrinya meminta cerai karena faktor ekonomi. Di kemudian hari Saimin menikah kembali dengan Katiyem. Dengan istri kedua inilah, Mbah Min menjalani hidup sampai sekarang ini.

Peristiwa yang tidak dapat dilupakan dalam hidupnya adalah tragedi G30S. Saimin sempat dituduh PKI. Tuduhan itu bermula dari soal sepele, yaitu karena ia tidak membayar iuran ke Koramil untuk satu pertunjukan seni. “Hampir saja saya dipancung. Untung Lurah mengetahui bahwa saya memang bukan PKI,” ujarnya. Pada zaman itu, menurutnya memang gampang sekali orang dituduh PKI, karena hal-hal yang sepele semacam itu.

Mbah Min adalah salah satu saksi sejarah pergulatan batin komunitas Sodong. Pada tahun 1975 ketika Agama Budha mulai menjamah komunitas Sodong, banyak strategi digunakan para misionaris Budha untuk masuk wilayah ini. Salah satunya adalah dengan mengangkat Mbah Min menjadi Romo Pandhito. Toh demikian, Budha tak membuatnya berpisah dengan ajaran-ajaran kejawen.

Bagi saya agama tidak lain adalah soal ageman, soal pakaian dan oleh karena itu terserah masing-masing orang. Tujuannya adalah keselamatan”.

Berkaitan dengan tradisi Grebeg Suro di Ponorogo yang telah dibakukan oleh pemerintah saat ini, Mbah Min memiliki catatn tersendiri. Dalam Grebeg Suro biasanya dilakukan kirab pusaka milik Batara Katong. Ini menurut Mbah Min sangat ironis, karena sebenarnya pusaka yang dikirab itu adalah pusaka curian.

“Tumbak Koro Welang adalah pusaka Ki Ageng Kutu yang dicuri Batoro Katong,” kata Mbah Min.

Sebagai pemegang teguh tradisi kejawen dan penganut setia Ki Ageng Kutu Suryongalam, Mbah Min telah merasakan betul pahitnya memegang sebuah prinsip, juga bagaimana susahnya menjadi orang kecil yang berbeda pandangan dengan para pengikut Batoro Katong yang sekarang berkuasa di Ponorogo.

Kini di usianya yang senja Mbah Saimin tetap bekerja keras meladang dan menggembala ternak demi menyambung hidup. Di tengah keprihatinan, ia tetap tampil paling depan sebagai perawat ajaran dan tradisi nenek moyang. Di tengah gulita malam nan hening, bersama anak cucunya nun di pedalaman Ponorogo, Mbah Min tetap melantunkan kidungan.

“Bila alam raya tidak lagi mampu menahan keserakahan manusia, terjadilah malapetaka.”

Demikian salah satu bait Kidung Weda-Santi yang dibaca Mbah Saimin pada malam 1 Suro itu. Sebuah tembang kehidupan yang penuh makna. [mur/ring/mif]

Tulisan ini diambil dari majalah Ngaji Budaya yang diterbitkan atas kerjasama Puspek Averroes dengan yayasan Desantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *